Survei Halodoc: ISPA Paling Banyak Menyerang Pekerja Muda, Penyakit Jantung dan Kanker Mengintai di Usia 50 Tahun
Survei terbaru Halodoc mengungkapkan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak dialami pekerja muda di Indonesia
Kesehatan pekerja Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia dan meningkatnya biaya layanan kesehatan. Hal tersebut terungkap dalam laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 yang dirilis Halodoc for Business berdasarkan lebih dari satu juta transaksi layanan kesehatan dan lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 selama kuartal pertama 2026 dari lebih dari 30 sektor industri di Indonesia.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa profil penyakit pekerja berubah sesuai kelompok usianya. Pada kelompok pekerja muda, ISPA menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan. Memasuki usia produktif 30 hingga 49 tahun, gangguan muskuloskeletal atau masalah pada otot, tulang, dan persendian akibat aktivitas kerja mulai mendominasi. Sementara itu, pada kelompok usia di atas 50 tahun, penyakit kardiovaskular dan kanker menjadi penyumbang biaya kesehatan terbesar.
Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, mengatakan ISPA juga menjadi diagnosis terbanyak untuk layanan rawat jalan. Sementara itu, infeksi saluran pencernaan mendominasi kasus rawat inap. Menurutnya, kedua kondisi tersebut sebagian besar sebenarnya dapat dicegah melalui intervensi kesehatan yang sederhana dan perubahan gaya hidup yang lebih baik.
Temuan lain yang cukup menarik adalah adanya perbedaan profil penyakit berdasarkan jenis kelamin. Sebanyak 81 persen pasien penyakit kardiovaskular merupakan laki-laki, sedangkan 72 persen pasien kanker merupakan perempuan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan skrining dan pemeriksaan kesehatan pekerja perlu disesuaikan dengan faktor usia dan jenis kelamin masing-masing.
Laporan tersebut juga menyoroti masih banyak pekerja yang menunda pengobatan karena terkendala akses layanan kesehatan yang dianggap rumit. Penundaan tersebut berpotensi membuat keluhan kesehatan ringan berkembang menjadi penyakit yang lebih serius dan membutuhkan biaya penanganan yang lebih besar.
Di sisi lain, Indonesia diproyeksikan mengalami inflasi biaya kesehatan sebesar 15,1 persen pada 2026. Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi biaya kesehatan global yang berada di angka 14 persen dan menjadi yang kelima tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan dalam menjaga kesehatan dan produktivitas tenaga kerjanya.
Halodoc menilai perusahaan perlu mengubah pendekatan dalam mengelola kesehatan karyawan. Pengendalian biaya kesehatan tidak cukup hanya dilakukan melalui efisiensi anggaran, tetapi juga perlu diawali dengan pemahaman yang baik terhadap profil kesehatan tenaga kerja. Dengan demikian, program kesehatan yang dirancang dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan karyawan.
Layanan telemedicine dinilai menjadi salah satu solusi yang mampu meningkatkan efisiensi biaya kesehatan perusahaan. Berdasarkan laporan tersebut, layanan telemedicine mampu menangani 24 persen dari seluruh kasus kesehatan hanya dengan 8 persen dari total biaya kesehatan. Bahkan, lebih dari 95 persen kasus dapat diselesaikan tanpa memerlukan kunjungan fisik lanjutan dalam waktu 30 hari.
Pada pasien penyakit kronis, pemanfaatan layanan Digital Cashless Outpatient (DCO) juga tercatat mampu menghemat biaya kesehatan hingga 66,4 persen dalam 90 hari dibandingkan pasien yang tidak memanfaatkan layanan digital. Saat ini, layanan tersebut telah digunakan oleh lebih dari 1,5 juta pengguna aktif dari lebih dari 3.000 perusahaan mitra dan didukung oleh lebih dari 30 perusahaan asuransi.
Temuan survei ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan pekerja tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika sakit, tetapi juga membutuhkan upaya promotif dan preventif yang dilakukan secara berkelanjutan. Pemeriksaan kesehatan berkala, pola hidup sehat, serta kemudahan akses terhadap layanan kesehatan menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas tenaga kerja Indonesia di tengah meningkatnya biaya layanan kesehatan.





